Surakarta – Ketua DPRD Bali, I Nyoman Adi Wiryatama, mendorong para petani di Bali untuk memperkuat posisi tawar mereka di tengah tantangan pasar yang semakin kompleks. Pernyataan ini disampaikan saat menghadiri pertemuan dengan kelompok tani di Tabanan, Jumat (8/8/2025).
Menurut Adi, sektor pertanian adalah salah satu penopang utama ekonomi Bali, namun petani kerap berada di posisi yang lemah dalam rantai distribusi. Harga hasil pertanian sering kali tidak sebanding dengan biaya produksi karena dominasi tengkulak, fluktuasi pasar, dan minimnya akses langsung ke konsumen.
“Petani harus punya kekuatan kolektif. Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada sistem lama yang membuat petani jadi pihak paling lemah. Harus ada perubahan pola pikir dan strategi,” tegas Adi.
Dorongan untuk Berorganisasi
Adi menekankan pentingnya koperasi tani atau gabungan kelompok tani (Gapoktan) sebagai wadah yang mampu memperkuat posisi petani. Melalui koperasi, petani dapat membeli sarana produksi dengan harga lebih murah, menjual hasil panen secara kolektif, dan mengakses pembiayaan dengan bunga rendah.
“Kekuatan ada pada kebersamaan. Kalau petani jalan sendiri-sendiri, mereka akan mudah ditekan harga oleh pasar. Tapi kalau bersatu, petani bisa menentukan harga yang lebih adil,” ujarnya.
Pemanfaatan Teknologi dan Pasar Digital
Selain penguatan kelembagaan, Adi juga mendorong petani untuk memanfaatkan teknologi, terutama platform pemasaran digital. Menurutnya, penjualan langsung ke konsumen melalui e-commerce atau media sosial dapat memangkas mata rantai distribusi dan memberikan keuntungan lebih besar.
Adi mencontohkan beberapa komunitas tani di Bali yang sukses memasarkan produk organik mereka secara online hingga menembus pasar nasional bahkan ekspor.
“Kita harus berani keluar dari pola lama. Dunia sudah digital, dan petani Bali juga bisa sukses di situ,” tambahnya.

Baca juga: UIN Surakarta Genap 33 Tahun, Usung Tema ‘Unggul Berilmu, Santun Berinteraksi, Mahir Berdigital
Tantangan Pasar Global
Dalam pertemuan tersebut, Adi juga menyinggung tantangan dari pasar global seperti persaingan harga dengan produk impor, perubahan iklim yang memengaruhi produktivitas, dan tuntutan sertifikasi produk untuk bisa masuk pasar internasional.
Untuk menghadapi hal ini, ia meminta pemerintah daerah lebih aktif memberikan pendampingan, mulai dari pelatihan pengolahan pascapanen, bantuan sertifikasi, hingga fasilitasi pemasaran ke luar negeri.
Harapan untuk Regenerasi Petani
Adi juga menyoroti pentingnya regenerasi petani. Menurutnya, banyak generasi muda yang enggan melanjutkan usaha tani karena dianggap kurang menguntungkan.
“Kita harus tunjukkan bahwa bertani bisa sejahtera. Kalau tidak ada regenerasi, ke depan kita akan krisis petani,” ujarnya.
Ia berharap dengan dukungan teknologi, akses pasar yang lebih luas, dan harga yang layak, anak-anak muda Bali akan kembali melihat pertanian sebagai profesi yang menjanjikan.
Komitmen DPRD Bali
Sebagai pimpinan DPRD Bali, Adi menegaskan komitmennya untuk mendorong kebijakan pro-petani, termasuk subsidi pupuk, pembangunan infrastruktur irigasi, dan perlindungan lahan produktif dari alih fungsi yang tidak terkendali.
“Pertanian adalah jantung Bali. Kalau petani kita kuat, Bali akan tetap berdiri kokoh, meskipun pariwisata sedang lesu,” pungkasnya.





