Bukan Sekadar Orasi: Mahasiswa Solo Ubah Mimbar Bebas Jadi Panggung Aksi Sosial Konkret
Surakarta- Suasana Plaza Balai Kota (Balkot) Solo pada Rabu sore berubah menjadi ruang empati dan kepedulian. Berbeda dengan kesan aksi unjuk rasa mahasiswa pada umumnya yang penuh dengan teriakan dan ketegangan, aksi yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IMM Solo Raya justru memancarkan energi positif dan gotong royong. Mereka tidak hanya datang untuk menyuarakan kritik, tetapi juga mengulurkan tangan dengan membagikan ratusan paket sembako dan menyediakan cek kesehatan gratis untuk masyarakat.

Baca Juga : Operasi Patroli Gabungan TNI-Polri Warna Solo di Malam Minggu
Sejak pukul 16.00 WIB, puluhan mahasiswa dari berbagai kampus dengan almamater khas merah maroon telah memadati plaza
Sebuah tenda putih segera didirikan, bukan untuk mengobar semangat perlawanan, melainkan sebagai klinik kecil untuk mengecek tekanan darah dan kesehatan warga. Di sisi lain, sebuah mobil boks diparkir, berisi ratusan paket sembako yang siap dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, dari kalangan ojek online, pedagang kecil, hingga warga sekitar yang melintas.
Muhammad Farrsa Musayyaf, selaku koordinator aksi, menegaskan bahwa langkah yang mereka ambil adalah sebuah aksi damai yang bertujuan membangun, bukan merusak.
Hari ini kami mengadakan aksi yang tidak menuntut pihak manapun
Kami hadir dengan konsep yang berbeda: cek kesehatan gratis, lapak baca, dan pembagian sembako gratis. Ini adalah upaya kami untuk merebut kembali citra positif dari sebuah aksi mahasiswa, ujar Farrsa di tengah-tengah kerumunan yang tertib.
Ia menambahkan bahwa aksi ini sengaja dirancang sebagai antitesis dari demonstrasi-demonstrasi yang akhir-akhir ini kerap diwarnai kerusuhan dan pengrusakan fasilitas umum. “Kami ingin tampil beda dan berinovasi. Demonstrasi bukan hanya tentang menyampaikan aspirasi, tapi juga tentang aksi nyata untuk rakyat. Harapan kami, langkah kecil ini bisa meringankan beban dan diterima baik oleh masyarakat, terutama di tengah isu ekonomi yang menyentuh semua elemen, dari guru, buruh, hingga pekerja lepas,” sambungnya.
Meski berwarna sosial, pesan kritik mereka tetap disampaikan dengan jelas. Sebuah spanduk putih dibentangkan, memuat tulisan-tulisan tajam seperti ‘Sahkan RUU Perampasan Aset’, ‘Warga Jaga Warga’, dan ‘Sejahterakan Guru dan Buruh’. Aksi ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai cabang IMM se-Solo Raya, termasuk IMM Solo Surakarta, IMM Karanganyar, IMM Ahmad Dahlan, serta mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), UIN Raden Mas Said, Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Muhammadiyah Klaten.
Melalui mimbar bebas yang mereka sediakan, para mahasiswa secara bergantian menyoroti sejumlah isu panas yang terjadi di tanah air. Mereka menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kebijakan-kebijakan elit politik yang dinilai tidak lagi berpihak pada rakyat kecil.
Isu yang kami soroti adalah kebijakan para elit yang mungkin dirasa tidak sesuai di mata masyarakat Indonesia
Selain itu, kami juga menyoroti tindakan represivitas dari beberapa aparat terhadap masyarakat yang ikut demonstrasi. Kami hadir di sini dengan ‘pure’, menyampaikan aspirasi dengan cara yang santun dan manusiawi, pungkas Farrsa menutup pernyataannya.
Aksi yang berlangsung tertib dan penuh inovasi ini berhasil menarik simpati dan apresiasi dari warga yang melintas.
Aksi Nyata yang Beresonansi dan Diapresiasi Masyarakat
Kegiatan ini dengan cepat menarik perhatian warga yang sedang melintas atau beraktivitas di sekitar plaza.
Tak hanya sampai di situ, lapak baca yang mereka sediakan juga menjadi titik keramaian. Beberapa anak-anak dengan penuh rasa ingin tahu mendekati tumpukan buku dan dengan gembira memilih bacaan yang disukai. Pada saat yang sama, orasi yang disampaikan secara bergantian oleh para mahasiswa tetap mengalir, menyampaikan kritik konstruktif tanpa menimbulkan kebisingan atau ketakutan.
Selanjutnya, Farrsa lebih jauh menjelaskan motivasi di balik rangkaian aksi unik ini. “Kami secara sengaja memilih pendekatan pelayanan masyarakat karena kami yakin bahwa perubahan nyata harus berawal dari kepedulian pada sesama.
Di sisi lain, respons positif juga ternyata datang dari aparat keamanan yang berjaga. Hal ini pada akhirnya membuktikan bahwa aksi damai dan penuh inovasi selalu dapat membangun simpati dari berbagai pihak.
Sebagai penutup, acara ini berhasil menegaskan satu hal penting: semangat perubahan dan kemanusiaan masih sangat hidup di kalangan generasi muda. Kedepannya, gerakan seperti ini diharapkan dapat menginspirasi banyak elemen lainnya untuk berbuat lebih baik dan lebih konkret bagi negeri.





