Kontroversi Malam Selikuran Keraton Solo Picu Dua Kirab

oleh -267 Dilihat
oleh

Berita Surakarta – Tradisi Malam Selikuran di Keraton Solo kembali menarik perhatian publik pada Ramadan 2026. Perbedaan sikap di internal keraton memicu kontroversi malam selikuran setelah dua kubu menyelenggarakan kirab secara terpisah pada malam ke-21 Ramadan.

2 Kubu Keraton Solo Gelar Malam Selikuran, Kirab Tumpeng Sewu Tetap Khidmat  - Espos.id
Kontroversi Malam Selikuran Keraton Solo Picu Dua Kirab

Malam Selikuran merupakan tradisi budaya yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Keraton biasanya menggelar kirab lampion dan membawa tumpeng untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Masyarakat Solo dan wisatawan biasanya menantikan prosesi ini setiap Ramadan karena memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat..

Baca Juga : Ketahanan Pangan Polri Tanam Jagung Kebakkramat

Namun pada tahun ini, dua kelompok di lingkungan Keraton Surakarta mengadakan kirab dengan jalur dan titik keberangkatan berbeda. Kondisi tersebut memunculkan kontroversi malam selikuran yang memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.

Salah satu kubu memulai kirab dari kawasan dalam Keraton Surakarta dengan melibatkan para abdi dalem yang mengenakan busana adat lengkap. Rombongan tersebut berjalan membawa lampion dan tumpeng menuju Masjid Agung Surakarta untuk melanjutkan doa bersama.

Malam Selikuran karena tradisi ini sudah menjadi bagian penting

Sementara itu, kubu lainnya juga menggelar prosesi serupa dengan rute berbeda. Mereka memulai kirab dari area pagelaran keraton lalu berjalan melewati sejumlah ruas jalan utama di Kota Solo. Prosesi ini tetap berlangsung khidmat dan menarik perhatian warga yang memadati sepanjang rute kirab.

Perbedaan pelaksanaan kirab tersebut tidak terlepas dari dinamika internal Keraton Solo yang sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan dan pengelolaan tradisi keraton sering memunculkan kegiatan adat yang dilakukan secara terpisah.

Meski demikian, kedua kubu tetap menegaskan tujuan yang sama, yaitu melestarikan tradisi budaya Jawa sekaligus menyambut malam penuh keberkahan di bulan Ramadan. Masyarakat pun tetap antusias menyaksikan kirab Malam Selikuran karena tradisi ini sudah menjadi bagian penting dari identitas budaya Kota Solo.

Pemerintah daerah dan berbagai pihak berharap seluruh elemen keraton dapat menjaga nilai budaya serta mengedepankan kebersamaan agar tradisi Malam Selikuran tetap menjadi simbol persatuan masyarakat. Dengan semangat tersebut, tradisi ini diharapkan terus berlangsung dan tetap menjadi daya tarik budaya yang membanggakan bagi Kota Solo.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.