Sebelum Ajal Menjemput di Kampus UIN Surakarta, Mahasiswi Ini Sempat Diselamatkan Temannya
Surakarta– Sebuah tragedi mengguncang komunitas kampus Universitas Islam Negeri UIN Raden Mas Said Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Seorang mahasiswi berinisial HPN (21) meninggal dunia setelah diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 4 gedung laboratorium kampus.

Baca Juga : Sumur Tua Di Pelataran Rumah Tewaskan Balita Di Magetan
Yang membuat hati miris, ini bukanlah percobaan pertamanya. Sesaat sebelum ajal menjemput, nyawanya sempat diselamatkan oleh kawan seangkatannya yang sigap. Sayangnya, perlawanan terhadap bayang-bayang kelam dalam dirinya akhirnya kalah.
Perjuangan Melawan Bipolar dan Usia Pertama yang Gagal
Kapolsek Kartasura, AKP Tugiyo, yang dikonfirmasi mengenai insiden ini, mengonfirmasi kronologi yang memilukan. “Iya, benar, dia melompat dari lantai 4,” ujar Tugiyo.
Dijelaskannya, HPN diketahui memiliki riwayat gangguan kesehatan mental, yaitu bipolar disorder. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami perubahan suasana hati (mood) yang drastis, dari fase manik (sangat bersemangat) ke fase depresi (sangat sedih dan putus asa).
“Korban memang punya penyakit bipolar atau kecemasan. Yang bersangkutan sebelumnya pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat dari gedung, tapi karena ketahuan temannya, ia ditarik dan diselamatkan,” papar Tugiyo, menggambarkan betapa perjuangan HPN telah berlangsung cukup lama.
Kesempatan Kedua yang Berakhir Tragis
Kesempatan emas yang didapat dari uluran tangan temannya sayangnya tidak bertahan lama. Tugiyo melanjutkan, pada saat kejadian pukul 10.00 WIB, kampus sedang dalam kondisi sepi. HPN, yang diduga sedang berada dalam fase depresi, kembali menemukan celah untuk melaksanakan niatnya.
“Pada waktu kejadian tadi pas sepi sekitar jam 10. Dia sebelumnya sudah mau loncat tapi ketahuan temannya dan ditarik. Lalu, pada kesempatan kedua ini, dia berhasil melompat,” ungkap Tugiyo dengan nada prihatin.
Korban yang berdomisili di Blulukan, Colomadu, itu kemudian jatuh dan menghantam mobil yang sedang terparkir di bawah, sebelum akhirnya tergeletak di tanah.
Korban Sempat Dievakuasi dalam Kondisi Masih Hidup
Tim keamanan dan pihak kampus yang menyaksikan kejadian itu langsung bergerak cepat. Mereka mengevakuasi HPN dan membawanya ke Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) untuk mendapatkan pertolongan medis.
“Pada waktu jatuh, korban masih dalam kondisi hidup. Saat dibawa ke rumah sakit pun, dia masih hidup. Dokter berusaha memacu kesempatan hidupnya,” jelas Kapolsek.
Namun, pertolongan datang terlalu lambat bagi HPN. Sekitar 15 hingga 30 menit setelah tiba di rumah sakit, kabar duka pun tiba. Nyawa mahasiswi malang itu tidak tertolong lagi.
Proses Hukum dan Duka yang Tertinggal
Pasca kejadian, kepolisian segera melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk mendalami kasus ini lebih lanjut. “Olah TKP sudah dilakukan. Saya juga akan menemui pihak keluarga untuk menyampaikan belasungkawa dan melakukan pendampingan,” tandas AKP Tugiyo.
Tragedi ini bukan hanya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga HPN, tetapi juga menjadi cambuk bagi lingkungan sekitar untuk lebih peka terhadap isu kesehatan mental. Gangguan bipolar, seperti yang dialami HPN, bukanlah aib yang harus disembunyikan, melainkan penyakit yang membutuhkan penanganan medis dan dukungan sosial yang komprehensif.
Semoga kepulangan HPN menuju Sang Pencipta menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli dan memperlakukan kesehatan mental dengan serius, serta senantiasa mengulurkan tangan bagi mereka yang sedang berjuang dalam diam.





