Melokal di Solo: Sebuah Pesta Warna dan Filosofi Bunga Nusantara yang Memukau
Surakarta- Ruang di Lokananta Bloc Solo tiba-tiba berubah menjadi sebuah taman impian yang hidup. Bukannya alunan musik vinyl yang biasa menggema, melainkan simfoni visual dari ratusan jenis bunga lokal yang memamerkan keelokan dan kepribadiannya. Acara bertajuk “Melokal: Warna dan Cerita Bunga Nusantara” ini bukan sekadar pameran biasa, melainkan sebuah undangan untuk menyelami lebih dalam, merasakan keharuman, dan memahami jiwa dari setiap kelopak yang merekah.

Baca Juga : Irama Akhir Pekan Solo Berubah Sementara Demi Haul Habib Ali Al Habsyi
Event yang digagas oleh Florist Omniflora ini merupakan bagian dari roadshow menuju event akbar, Bali Flower Festival 2026. Di sini, pengunjung diajak untuk melihat bunga bukan hanya sebagai objek dekorasi, tetapi sebagai makhluk hidup yang menyimpan cerita, sejarah, dan makna filosofis yang dalam.
Antusiasme Pengunjung: Dari Kecantikan Visual hingga Makna yang Abadi
Suasana hangat dan penuh warna langsung terasa sejak memasuki area pameran. Salah satu pengunjung, Witri Nur Anisa (25), seorang florist asal Jogja, terlihat antusias menyusuri setiap sudut instalasi. Matanya berbinar-binar menatapi hamparan warna-warni yang tersusun apik.
“Saya sudah lama mengikuti perjalanan Omniflora. Ketika ada acara di Jogja, saya datangi. Sekarang mereka hadir di Solo, saya pun tidak mau ketinggalan. Koleksinya selalu menarik dan penyajiannya sangat artistik,” ujar Witri dengan senyum mengembang.
Bagi Witri, kunjungannya ini bukan sekadar untuk memuaskan mata. Ia pun pulang membawa beberapa buket pilihan, termasuk Krisan, Gompi, Gerbera, dan Snapdragon. Namun, pilihannya tidak sembarangan. Setiap bunga dipilihnya berdasarkan narasi dan makna yang disandangnya.
“Contohnya Krisan ini,” ujarnya sambil menunjuk salah satu bunga dalam genggamannya. “Di Korea, bunga ini sering dikaitkan dengan duka dan peringatan. Tapi, lihatlah warna-warnanya yang begitu ceria dan beragam! Makna pun menjadi cair dan bias, tergantung bagaimana kita memaknainya. Bagi saya, ia bisa melambangkan kebahagiaan dan keindahan yang kompleks.”
Witri berbagi tips merawat kecantikan bunga-bunga ini. Meski usia segarnya terbatas hanya sekitar seminggu, keindahannya bisa diabadikan menjadi kenangan yang lebih permanen. “Setelah mereka layu, jangan langsung dibuang. Bunga-bunga ini bisa dikeringkan, atau di-preserve menggunakan bahan kimia khusus. Cara yang lebih sederhana adalah dengan mempress-nya di dalam buku berat selama sebulan. Hasilnya nanti bisa dibingkai dan menjadi pajangan seni yang penuh kenangan,” jelasnya dengan semangat.
Jelajah Nusantara Menuju Pesta Bunga Nasional
Rafael Hiu, Direktur Omniflora yang juga penanggung jawab acara, menjelaskan bahwa pameran di Solo ini adalah satu dari serangkaian babak penting. “Ini adalah bagian dari roadshow kami menuju festival bunga nasional, Bali Flower Festival, yang akan digelar pada Juli 2025,” ujarnya kepada Espos, Kamis.
Perjalanan keliling ini, menurutnya, telah dimulai dari Surabaya, kemudian kini tiba di Solo, dan akan berlanjut ke kota-kota budaya lainnya seperti Semarang, Jogja, Bandung, dan Jakarta. Misi utamanya jelas: memperkenalkan kekayaan dan keunggulan bunga lokal Indonesia kepada masyarakat luas.
“Banyak yang belum tahu, meski beberapa varietas berasal dari luar negeri, proses pembibitannya sudah dilakukan di sini, di tanah air. Kami ingin menunjukkan bahwa kualitas bunga lokal tidak kalah saing,” papar Rafael dengan penuh keyakinan.
Ia memaparkan beberapa bintang dalam pameran ini, seperti Gerbera, yang disebutnya sebagai salah satu varietas dengan ragam warna dan bentuk terbesar di dunia. “Kami juga membawa beberapa produk baru yang mungkin belum banyak dikenal, seperti Scabiosa yang lembut, Delphinium yang menjulang elegan, dan Craspedia yang bulat dan ceria seperti bola matahari,” tambahnya.
Meski yang dibawa ke Solo masih sebagian kecil, Rafael mengungkapkan bahwa Omniflora saat ini telah memproduksi sekitar 300 jenis bunga potong untuk memenuhi dinamika dan tuntutan pasar.
Bunga: Sahabat Setia dalam Setiap Tahapan Hidup
Menyelami Di balik gemerlap warna-warni bunga, Rafael menekankan pesan yang lebih mendalam. Baginya, bunga telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan manusia.
“Bayangkan, dari kita lahir, dirayakan dengan bunga. Saat wisuda, diberikan buket kebanggaan. Pada momen terbahagia seperti pernikahan, bunga adalah dekorasi utama. Hingga pada saat perpisahan terakhir, bunga hadir sebagai simbol penghormatan dan kedamaian. Peran bunga dalam siklus kehidupan kita sangatlah panjang dan penuh makna,” tuturnya dengan nada yang menghormati.
Menyelami Pameran Melokal di Lokananta Bloc Solo ini adalah lebih dari sekadar ajang jual-beli. Ia adalah sebuah ruang apresiasi, sebuah galeri hidup yang merayakan keindahan alam Nusantara, mengajak kita untuk melambat sejenak, dan menemukan cerita-cerita personal yang tersembunyi di balik helai-helai kelopak yang memesona. Sebuah pengalaman yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyentuh hati dan jiwa.





