, ,

Taman Sriwedari Pusat Rehabilitasi Mental Pertama Indonesia yang Terlupakan

oleh -3893 Dilihat

Taman Sriwedari: Melacak Jejak Pionir Rehabilitasi Jiwa yang Humanis di Solo

Surakarta- Lebih dari sekadar ruang hijau di tengah gemerlap Kota Solo, Taman Sriwedari menyimpan sebuah narasi sejarah yang progresif dan memancarkan kearifan lokal. Dibangun pada era keemasan Keraton Surakarta, taman yang diresmikan sekitar tahun 1901 ini bukan hanya menjadi tempat rekreasi, melainkan juga merupakan pusat rehabilitasi pertama bagi pasien gangguan kejiwaan dan disabilitas di Indonesia, sebuah terobosan yang sangat maju pada masanya.

Taman Sriwedari Pusat Rehabilitasi Mental Pertama Indonesia yang Terlupakan
Taman Sriwedari Pusat Rehabilitasi Mental Pertama Indonesia yang Terlupakan

Baca Juga : Titon Darmasto Resmi Pimpin Perbarindo Solo Raya untuk Periode 2025-2027

Dari Gagasan Raja yang Visioner

Inisiatif pendirian Taman Sriwedari berasal dari seorang raja yang visioner, Pakubuwono X dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Seperti diungkapkan oleh Muhammad Aprianto, pegiat sejarah dari Soerakarta Walking Tour, sang raja menginginkan sebuah ruang publik terbuka yang menjadi pusat kehidupan masyarakat kota.

“Pakubuwono X membayangkan sebuah taman yang bukan hanya indah, tetapi juga multifungsi, menjadi jantung kebudayaan dan bahkan kesehatan bagi warga Solo,” papar Aprianto.

Solo: Pelopor Terapi Alam untuk Kesehatan Jiwa

Fungsi Taman Sriwedari sebagai tempat rehabilitasi jiwa menjadikan Solo sebagai kota pionir dalam pendekatan kesehatan mental yang humanis di Hindia Belanda.

“Solo termasuk pelopor. Penyembuhan psikologisnya dilakukan langsung dengan terapi alam. Pasien tidak lagi hanya tergantung pada obat-obatan, tetapi disembuhkan dengan pendekatan yang alami dan menenangkan di tengah taman,” jelas Aprianto.

Baru setelahnya, rumah sakit jiwa di Batavia (Jakarta) menyusul pada 1924, dan di Surabaya pada 1929.

Lokasi bersejarah Doorgangshuis te Soerakarta kini telah bertransformasi menjadi Museum Keris Nusantara, menyimpan warisan budaya lain yang tak kalah berharganya. Keterkaitan sejarahnya dengan Belanda bahkan masih tersambung, ditandai dengan kunjungan cucu dari kepala Doorgangshuis te Soerakarta beberapa waktu lalu, yang didampingi langsung oleh Aprianto untuk melacak jejak keluarganya.

Revitalisasi dan Penemuan Kembali Masa Lalu

Pemerintah Kota Solo di bawah kepemimpinan Wali Kota Gibran Rakabuming Raka (sebelumnya di bawah Wali Kota FX Hadi Rudyatmo dan diwakili oleh Wakil Wali Kota saat peninjauan, Respati Ardi) kini giat melakukan revitalisasi untuk mengembalikan kejayaan Taman Sriwedari.

Dalam proses revitalisasi kawasan Segaran (danau buatan) di taman tersebut, para pekerja membuat sebuah penemuan yang mencengangkan: Gua Swara. Struktur bangunan kuno berdinding enam sisi dengan tinggi sekitar dua meter ini ditemukan terpendam di bawah Panti Pangeksi (bangunan di tengah Segaran).

Wakil Wali Kota Solo saat itu, Respati Ardi, mengaku merinding menyaksikan penemuan dan kemegahan infrastruktur Taman Sriwedari.

“Merinding saya. Bahwa di tahun 1900 sudah dibuat seperti ini, bagus sekali,” ujarnya.

Diyakini, Gua Swara dahulu berisi gamelan dan difungsikan pada momen-momen spesial seperti malam Selikuran (malam-malam di bulan Ramadan). Penemuan ini semakin mempertegas nilai kultural dan spiritual yang melekat pada taman tersebut.

Menguri-nguri untuk Masa Depan

Pemkot Solo mengalokasikan dana sekitar Rp 1,8 miliar dari APBD untuk merevitalisasi Segaran agar kembali pada bentuknya di era 1923-1940 dan menjadi ruang publik yang nyaman bagi warga.

“Kami nguri-nguri (melestarikan) kebudayaan. Kami mengingati leluhur.

Taman Sriwedari tidak hanya bercerita tentang masa lalu yang gemilang, tetapi juga tentang komitmen untuk menghidupkannya kembali. Ia adalah sebuah monumen hidup yang menjadi saksi bisu betapa nenek moyang kita telah mempraktikkan konsep kesehatan jiwa yang inklusif dan harmonis dengan alam, jauh sebelum dunia modern menyadarinya.

Visioner seorang Raja Melahirkan Konsep Revolusioner

Seorang raja yang visioner, Pakubuwono X dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, mencetuskan ide pembangunan Taman Sriwedari. Muhammad Aprianto, seorang pegiat sejarah dari Soerakarta Walking Tour, menjelaskan bahwa sang raja menginginkan sebuah ruang publik terbuka yang menjadi pusat denyut nadi kehidupan masyarakat kota. Akibatnya, dengan investasi yang sangat besar, Taman Sriwedari pun segera terbangun dengan fasilitas yang lengkap. Tempat ini menawarkan kebun binatang mini, aneka tanaman, museum, Gedung Wayang Orang, gedung kesenian, dan yang paling unik: sebuah rumah sakit jiwa atau Doorgangshuis te Soerakarta.

Solo Memelopori Terapi Alam yang Humanis

Keberadaan Doorgangshuis menempatkan Solo sebagai pelopor pendekatan kesehatan mental yang humanis di Hindia Belanda. Yang membedakannya, konsep penyembuhan di sini tidak bergantung sepenuhnya pada obat-obatan. Sebaliknya, para pasien menjalani terapi alami di tengah ketenangan dan keasrian taman. Tak heran, metode revolusioner ini kemudian menginspirasi kota-kota besar lainnya. Buktinya, rumah sakit jiwa di Batavia (Jakarta) baru berdiri pada 1924, dan di Surabaya pada 1929, jauh setelah Solo memulainya pada 17 Juli 1919.

Lokasi bersejarah Doorgangshuis te Soerakarta tersebut kini telah bertransformasi menjadi Museum Keris Nusantara. Menariknya, warisan sejarahnya masih terus hidup, bahkan seorang cucu dari kepala Doorgangshuis pernah berkunjung untuk melacak jejak kakeknya.

Revitalisasi Mengungkap Misteri yang Terpendam

Pemerintah Kota Solo sekarang aktif merevitalisasi Taman Sriwedari untuk mengembalikan kejayaannya. Dalam prosesnya, para pekerja membuat sebuah penemuan mencengangkan: Gua Swara. Mereka menemukan struktur bangunan kuno berdinding enam sisi ini terpendam di bawah Panti Pangeksi, bangunan di tengah Segaran.

Wakil Wali Kota Solo saat itu, Respati Ardi, mengaku merinding menyaksikan penemuan dan kemegahan infrastruktur Taman Sriwedari. “Merinding saya. Menurut keyakinan, Gua Swara dahulu berisi gamelan dan berfungsi untuk acara-acara spesial seperti malam Selikuran di bulan Ramadan.

Komitmen Membangun Masa Depan dengan Memuliakan Masa Lalu

Pemkot Solo mengalokasikan dana sekitar Rp 1,8 miliar dari APBD untuk merevitalisasi Segaran. Tujuannya jelas, yaitu mengembalikan wajah kawasan itu ke era 1923-1940 sekaligus menciptakan ruang publik yang nyaman. Selanjutnya, pemerintah berencana melanjutkan revitalisasi secara bertahap ke kawasan pendukung lainnya. Mereka telah mempersiapkan anggaran sekitar Rp 1 miliar pada APBD 2026 untuk fase berikutnya.

Pada akhirnya, Taman Sriwedari tidak hanya bercerita tentang masa lalu. Tempat ini justru menjadi bukti nyata komitmen untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang berharga. Ia berdiri sebagai monumen hidup yang membuktikan betapa nenek moyang kita telah mempraktikkan konsep kesehatan jiwa yang inklusif dan harmonis dengan alam, sebuah pelajaran berharga untuk kita semua di masa kini.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.