Ulat di Piring Sekolah! Wali Kota Solo Geram dan Minta Evaluasi Nasional untuk Program Makan Bergizi
Surakarta- Sebuah insiden yang meresahkan terjadi di program Makan Bergizi Gratis (MBG) SMA Negeri 6 Surakarta. Temuan ulat sayur pada makanan yang disajikan bagi para siswa ini langsung menuai sorotan tajam dan tak dibiarkan berlalu oleh Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, yang diwakili oleh Wakil Wali Kota, Teguh Prakosa. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kota Solo tak tinggal diam dan secara resmi menyurati Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meminta evaluasi menyeluruh terhadap pihak-pihak terkait.

Baca Juga : Pengepul Rongsokan Di Solo Temukan Granat Tangan Aktif Di Kediamannya
“Kami tentu sangat prihatin dan menyayangkan kejadian ini. Temuan yang tidak layak seperti ini seharusnya tidak bisa ditolerir sama sekali,” tegas Wakil Wali Kota Teguh Prakosa, mewakili sikap tegas Pemkot Solo. “Langkah konkret sudah kami ambil. Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) bersama Dinas Kesehatan akan segera turun ke lapangan untuk melakukan investigasi mendalam. Hasil dari investigasi ini nantinya akan kami laporkan secara resmi kepada Badan Gizi Nasional,” paparnya di Balai Kota Solo, Senin.
Sebagai bentuk komitmen dan respons cepat, Gibran dan Teguh secara personal telah melakukan pemantauan langsung (monitoring) ke sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur-dapur yang memasok makanan untuk program tersebut. Kunjungan ini dilakukan untuk mengecek secara detail proses mulai dari pengolahan, kebersihan dapur, hingga cara penyajian makanannya.
Tak hanya mengandalkan pengawasan internal, Pemkot Solo juga membuka ruang partisipasi masyarakat
Gibran melalui Teguh mengajak seluruh warga, terutama orang tua siswa, untuk aktif menjadi mata dan telinga dengan melaporkan jika menemui menu atau kondisi makanan yang tidak layak.
“Program ini bergulir di banyak titik, bukan hanya satu dapur. Karena itu, pengawasan kita juga harus menjangkau semua. Kami membuka aduan dari masyarakat. Jika ada laporan tentang makanan yang tidak sesuai standar, itu justru membantu kami untuk mengingatkan dan memastikan setiap dapur lebih berhati-hati lagi, terutama dalam pemilihan bahan baku,” jelas Teguh.
Secara keseluruhan, hasil pemantauan yang dilakukan menunjukkan bahwa mayoritas SPPG telah beroperasi dengan baik dan sesuai harapan. Namun, tetap ada beberapa catatan perbaikan, khususnya dalam hal teknis pengolahan dan standar higienitas yang lebih ketat.
“Alhamdulillah, sebagian besar sudah berjalan baik. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu refresh atau penyegaran kembali tentang protokol kebersihan. Semua catatan ini sudah kami rangkum. Kejadian di SMA N 6 ini kami jadikan momentum untuk memperkuat pengawasan ke semua titik,” tuturnya.
Wakil Wali Kota menegaskan bahwa meskipun ulat sayur secara medis mungkin tidak tergolong beracun atau membahayakan jiwa, keberadaannya menunjukkan celah besar dalam proses jaminan mutu dan kebersihan. Hal ini merupakan indikator kuat bahwa prosedur food safety tidak dijalankan dengan sempurna.
Sekali lagi, ini adalah hal yang tidak bisa ditoleransi.
Makanan untuk anak-anak sekolah, apalagi yang bertujuan memerangi stunting, haruslah yang terbaik, bergizi, dan yang paling utama: higienis. Kami akan memberikan peringatan keras kepada semua dapur agar ekstra waspada dalam memilih dan mencuci bahan makanan, tegasnya.
Langkah strategis jangka panjang juga disiapkan. Selain pengawasan proses masak, Pemkot Solo akan memperketat pengawasan pada rantai pasok (supply chain) bahan bakunya. Dispangtan akan segera mengeluarkan rekomendasi dan peraturan yang mengarahkan SPPG untuk membeli bahan baku dari distributor atau supplier yang telah bersertifikat dan terjamin keamanan pangannya.
“Kami akan beri referensi pembelian dari penyedia yang bersertifikat. Ini adalah tugas kami sebagai Satgas Pangan yang ditunjuk oleh Kementerian Dalam Negeri.





